Infopendidikanterkini.com – Di tengah riuh rendah persiapan masyarakat menyambut hari kemenangan Idul Fitri 1447 Hijriah, sebuah potret kemanusiaan yang menggetarkan jiwa tercipta di sudut Kabupaten Takalar. Kamis (19/3/2026)
Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Serikat Pers Reformasi Nasional (SEPERNAS) memilih menutup tirai Ramadhan bukan dengan pesta pora, melainkan dengan menyisir warga miskin ekstrem—mereka yang selama ini hidup dalam bayang-bayang, luput dari jangkauan kamera dan bantuan formal pemerintah.
Bertempat di Sekretariat DPC SEPERNAS, Jalan Ranggong Daeng Romo No. 51 Panaikang, bantuan paket sembako diserahkan langsung oleh Ketua DPC SEPERNAS Takalar, Azis Kawang, didampingi Sekretaris Kamal Rajamuda. Suasana di poros Takalar–Jeneponto sore itu terasa berbeda; tidak ada keriuhan protokoler yang kaku, yang ada hanyalah ketulusan yang mengalir dari tangan-tangan jurnalis yang biasanya memegang pena, kini merangkul beban hidup sesama yang kian menghimpit.
Kegiatan ini bukan sekadar seremoni organisasi untuk menggugurkan kewajiban tahunan. Ini adalah sebuah ikhtiar batin yang mendalam untuk memastikan bahwa kebahagiaan lebaran tidak hanya menjadi monopoli mereka yang berpunya, tetapi juga milik jiwa-jiwa yang selama ini berjuang di garis kemiskinan terdalam, yang seringkali dipaksa keadaan untuk menelan pahitnya rasa lapar di balik pintu rumah yang reot.
“Ini adalah bentuk kepedulian kami sebagai insan pers. Kami ingin hadir bukan hanya menyampaikan berita, tetapi juga membawa manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkap Azis Kawang dengan suara rendah yang bergetar penuh penekanan. Baginya, martabat seorang jurnalis tidak hanya diukur dari tajamnya tulisan, tetapi juga dari sejauh mana langkah kaki mereka mampu menjangkau mereka yang terabaikan oleh sistem dan perhatian.
Puncak keharuan menyelimuti sore yang tenang itu ketika Mo’mi, seorang janda yang hidup dalam kepapaan, melangkah maju menerima bantuan. Di balik guratan lelah yang terpahat dalam di wajahnya, terpancar sebuah kelelahan panjang akan perjuangan hidup. Saat jemarinya menyentuh paket bantuan tersebut, pertahanannya runtuh; ia tak lagi mampu menyembunyikan duka yang selama ini ia simpan rapat dalam kesunyian.
Air matanya jatuh tak terbendung, membasahi pipinya yang cekung, menciptakan suasana hening yang menyayat hati bagi siapapun yang menyaksikan. Dengan suara yang terbata-bata akibat isak tangis yang menyesakkan dada, Mo’mi mengungkapkan kenyataan pahit yang selama ini terkubur: bertahun-tahun ia melewati masa sulit sebagai warga miskin ekstrem, namun baru kali inilah ia merasakan sentuhan bantuan sosial secara langsung.
“Saya sangat bersyukur, ini pertama kalinya saya dapat bantuan. Terima kasih banyak,” ucap Mo’mi di sela isak tangisnya yang memilukan. Ucapan jujur dari bibir yang gemetar itu seketika menjadi tamparan keras sekaligus pengingat bagi semua yang hadir, bahwa di balik deru pembangunan dan angka-angka statistik, masih ada jiwa-jiwa yang merasa berjuang sendirian tanpa pernah disapa oleh keadilan sosial.
Aksi kemanusiaan ini menjadi bukti autentik bahwa peran SEPERNAS tidak terbatas pada fungsi kontrol sosial atau penyambung lidah publik semata. Di tengah kondisi ekonomi yang kian menantang, bantuan yang mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang ini, nyatanya adalah sebuah pelita harapan yang menyala di tengah kegelapan bagi warga yang hampir putus asa. Senyum kecil yang terbit dari wajah-wajah kuyup air mata itu adalah kemenangan sejati di pengujung Ramadhan.
Melalui gerakan ini, SEPERNAS Takalar menitipkan pesan mendalam bagi pemerintah dan pihak swasta agar tidak menutup mata pada sudut-sudut yang gelap. Di penghujung bulan suci, komitmen untuk terus menyuarakan sisi kemanusiaan tetap menjadi prioritas utama. SEPERNAS ingin memastikan bahwa di Kabupaten Takalar, tidak boleh ada lagi warga seperti Mo’mi yang merasa dibiarkan berjuang sendirian melawan getirnya takdir di tengah keramaian dunia.
( Husaini )

