Revitalisasi SDN 79 Sawakung Towa Disorot: Diduga Cuma Kejar Keuntungan, Kualitas Pekerjaan Diabaikan

Infopendidikanterkini.com, TAKALAR/SULSEL – Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang merupakan program Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pendidikan tengah dilaksanakan di sejumlah sekolah di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Program tersebut mencakup sejumlah jenjang pendidikan, mulai PAUD, SD, SMP, SMA hingga SMK.

Salah satu sekolah yang mendapatkan program tersebut adalah SDN 79 Sawakung Towa, Desa Sawakung, Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar.

Sekolah tersebut memperoleh Bantuan Pemerintah Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2026 dengan nilai bantuan sebesar Rp779.736.571, yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026.

Pelaksanaan revitalisasi tersebut menggunakan mekanisme swakelola melalui Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP).

Dalam pelaksanaannya, pihak sekolah membentuk sejumlah unsur kepanitiaan, di antaranya ketua P2SP, sekretaris, bendahara, ketua pelaksana, pengawas serta tim keamanan.

Kepala sekolah juga memiliki peran dalam pengelolaan dan pengawasan pelaksanaan kegiatan sesuai ketentuan program.

Adapun masa pelaksanaan pekerjaan disebut selama 150 hari kerja (HK) dengan nomor PKS 2665.7/C3.3/BPZ.011/01/40301589/VIII/PKS/2026.

Namun, dalam proses pelaksanaannya, pekerjaan revitalisasi SDN 79 Sawakung Towa mulai mendapat sorotan dari warga yang mempertanyakan kualitas sejumlah bagian bangunan yang tengah dikerjakan.

Berdasarkan pantauan awak media di lokasi pada Sabtu (26/9/2026), terlihat bagian struktur beton pada sejumlah tiang depan ruang kelas yang kondisinya menjadi perhatian.

Pada beberapa bagian tampak retakan serta permukaan beton yang terlihat keropos hingga memperlihatkan bagian pembesian.

Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai kualitas pekerjaan dan kesesuaiannya dengan spesifikasi teknis yang tercantum dalam perencanaan.

Seorang warga sekaligus orang tua siswa yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengaku kecewa melihat kondisi tersebut.

Ia menunjuk salah satu bagian tiang beton dan menyebut permukaan beton terlihat rapuh ketika disentuh. Menurutnya, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius karena bangunan tersebut nantinya akan digunakan oleh siswa dalam aktivitas belajar sehari-hari.

“Bagaimana kami tidak kecewa. Tiang beton itu terlihat rapuh, disentuh saja ada bagian campurannya yang terhambur. Kami khawatir kalau nantinya mendapat getaran atau terjadi kondisi yang tidak diinginkan, bisa membahayakan anak-anak yang belajar di sekolah ini,” ujar warga tersebut.

Warga lainnya juga mempertanyakan metode pelaksanaan pengecoran beton yang disebut dilakukan secara manual menggunakan tenaga manusia.

Menurutnya, metode pencampuran material beton perlu mengikuti spesifikasi teknis yang telah ditetapkan dalam RAB agar mutu beton sesuai dengan perencanaan.

Ia juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap komposisi material, proses pencampuran hingga pengerjaan struktur beton.

“Kalau memang spesifikasi campuran beton dalam perencanaan mensyaratkan perbandingan tertentu, tentu harus dikerjakan sesuai ketentuan. Jangan sampai kualitas campuran tidak sesuai sehingga menghasilkan beton yang rapuh,” kata warga tersebut.

Ia meminta pihak yang berwenang memastikan seluruh proses pengerjaan memenuhi standar teknis yang telah ditetapkan.
Sorotan warga tidak hanya tertuju pada struktur beton.

Salah seorang warga lainnya yang juga meminta namanya tidak dipublikasikan menduga terdapat sejumlah material dan bagian pekerjaan lain yang perlu diperiksa kesesuaiannya dengan bestek maupun petunjuk teknis dalam RAB.

Ia menilai dugaan tersebut harus dibuktikan melalui pemeriksaan teknis, bukan hanya berdasarkan asumsi masyarakat.

Warga kemudian meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Takalar serta pihak terkait turun langsung melakukan pemeriksaan terhadap pekerjaan revitalisasi SDN 79 Sawakung Towa.

Mereka berharap setiap bagian pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi teknis dapat segera dievaluasi dan diperbaiki, terlebih bangunan tersebut nantinya digunakan oleh anak-anak sekolah.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pelaksana maupun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Takalar terkait sorotan warga tersebut.

Bersambung…………….(Jilid I)

(Lp: Syabri Syam D.MG/Tim Media)