Permudah Nelayan Dapat Solar, Bupati Takalar Daeng Manye Siapkan Terobosan Izin Kapal Lewat HP

Infopendidikanterkini.com, TAKALAR/SULSEL – Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye menindaklanjuti keluhan nelayan terkait sulitnya mendapatkan solar dan lambannya proses perizinan kapal.

Hal itu disampaikan Daeng Manye saat meninjau kampung nelayan di Desa Palalakkang, Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Minggu (20/9/2026).

Daeng Manye didampingi Kabag Forkopimda Takalar Amran Torada dalam kunjungan tersebut.

Ia berdialog langsung dengan sejumlah nelayan, di antaranya H Taba dan Hasan Banggu, untuk mengetahui persoalan yang mereka hadapi saat melaut.

Dalam dialog tersebut, nelayan menyampaikan bahwa ketersediaan solar masih menjadi salah satu kendala utama operasional kapal.

“Terhambat di solarnya. Itu saja, kendalanya solarnya,” ujar seorang nelayan kepada Daeng Manye.

Keluhan serupa kembali disampaikan ketika Daeng Manye menanyakan kondisi BBM kepada nelayan.

“BBM-nya susah ini, Pak. Bener-bener susah dari dulu. Sampai sekarang masih susah, tidak normal, Pak,” keluh nelayan tersebut.

Nelayan juga mengungkapkan kebutuhan BBM kapal cukup besar sehingga pasokan yang tersedia terkadang tidak mencukupi kebutuhan operasional mereka.

Selain solar, persoalan administrasi kapal turut menjadi perhatian Daeng Manye.

Nelayan menyebut proses pengurusan surat kapal membutuhkan waktu cukup lama, bahkan bisa berbulan-bulan.

Daeng Manye kemudian menanyakan pihak yang berkaitan dengan proses pengurusan tersebut.

Nelayan menyebut Syahbandar sebagai salah satu pihak yang menangani proses administrasi kapal.

“Nanti saya bicara sama Syahbandar. Supaya cepat,” kata Daeng Manye.

Ia juga mengungkapkan upaya pemerintah untuk menyederhanakan proses perizinan nelayan melalui sistem digital.

“Kita lagi berusaha supaya perizinan itu pakai HP, supaya tidak menumpuk lagi naik ke Majene ngurus, ke Majene ngurus,” ujarnya.

Dengan sistem tersebut, Daeng Manye berharap nelayan dapat mengetahui perkembangan proses perizinan tanpa harus berulang kali datang mengurus dokumen.

“Sehingga dari HP bisa ketahuan berapa lama diurus, kapan selesai,” katanya.

Daeng Manye juga menggali informasi terkait ukuran kapal yang digunakan nelayan di kawasan tersebut.

Salah seorang nelayan menyebut kapal yang digunakan memiliki kapasitas sekitar 30 GT.

Persoalan solar dan perizinan menjadi dua hal yang disampaikan nelayan dalam dialog tersebut.

Daeng Manye mengatakan persoalan yang disampaikan akan menjadi bahan untuk dicarikan solusi bersama pihak terkait.
(Lp/D.MG)